Selasa, 05 Maret 2013

Etos Belajar dan Berwirausaha di Dunia Mahasiswa



BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Mahasiswa merupakan cikal bakal sebuah tatanan majunya suatu bangsa. Ini karena mahasiswa memiliki kemampuan kompleks yang dapat memberikan sumbangsihnya bagi masyarakat pada lingkup mikro dan bangsa dalam lingkup makro baik dari pemikiran maupun tingkah laku. Mahasiswa juga mempunyai peranan vital dalam setiap sektor kehidupan. Namun semua hal itu tidak semata-mata tidak disematkan kepada mereka. Beban berat yang disematkan di pundak mereka membutuhkan wawasan yang luas dan usaha yang tidak pantang menyerah untuk dapat  mengangkatnya. 
Mahasiswa memang memiliki keunikan tersendiri dibandingkan dengan siswa sekolah setingkat SD, SMP, maupun SMA. Mereka memiliki tempat tertinggi di jenjang pendidikan. Sistem pembelajaran pun juga berbeda sehingga menjadi salah satu faktor pendukung keunikan tersebut. Pada jenjang pendidikan dasar tersebut, kita tak pernah menemui istilah-istilah seperti IPK, SKS, skripsi, dosen, dan lain sebagainya. Lama waktu pembelajarannya pun tak sepadat sekolah-sekolah formal biasa, cukup dengan tiga hingga empat jam perhari. Sementara itu, kerapkali kita melihat mahasiswa itu seperti tak pernah kuliah. Datang ke kampus, kuliah menunggu dosen, jika dosen tidak ada mereka akan pulang atau ke kantin. (http://edukasi.kompasiana.com). Anggapan seperti itu rupanya terlanjur melekat pada diri mahasiswa. Tapi, hal itu tidak sepenuhnya benar. Mahasiswa yang jeli melihat waktu-waktu kosong, tak ada dosen atau sehabis pulang kuliah tak ada kegiatan, mereka akan memanfaatkan waktu itu untuk hal-hal yang berguna. Salah satunya adalah dengan berwirausaha.
Fenomena kuliah sambil berwirausaha banyak dijumpai di berbagai negara. Hal ini terjadi baik dinegara berkembang maupun di negara maju yang telah mapan secara ekonomi. Di Indonesia, kondisi perekonomian yang cukup sulit bagi sebagian lapisan masyarakat mendorong mahasiswa mencari solusi dari masalah keuangan yang dihadapi dengan bekerja. Sebagian mahasiswa mempunyai masalah dengan biaya kuliah sehingga berusaha meringankan beban orangtua dengan berwirausaha. Namun, sebagian mahasiswa lain bekerja dengan alasan kemandirian. Para mahasiswa tersebut tidak malu bahkan merasa bangga meskipun mereka berwirausaha/bekerja.
Ada beberapa mahasiswa yang berwirausaha dengan berjualan baju, tas, pulsa, aksesoris dan makanan ringan/snack yang mudah dibawa ke kampus. Adapula yang bekerja secara part time/paruh waktu diantaranya sebagai pengajar les privat, SPG (Sales Promotion Girl), penyiar radio, penerjemah, penulis, wirausaha, reporter freelance, pramuniaga, penjaga warnet dan rental, dan tenaga administrasi. Mahasiswa yang bekerja diharapkan memiliki kemampuan tertentu seperti penguasaan ilmu dasar yang akan diajarkan dan kemampuan berkomunikasi dengan siswa pada pengajar les privat, kemampuan berbicara dan memiliki wawasan yang luas di bidang musik pada penyiar radio, kemampuan berkomunikasi dan penampilan yang menarik pada SPG, kemampuan dan bakat menulis pada penulis, ahli di bidang bahasa pada penterjemah, memiliki daya kreativitas yang tinggi pada wirausaha, ketekunan dan keuletan pada pramuniaga, kemampuan di bidang jurnalistik dan memiliki banyak jaringan kerja pada reporter freelance, serta menguasai komputer dengan baik pada penjaga warnet dan rental. 
Banyak hal positif yang bisa diperoleh dengan berwirausaha/bekerja. Di samping kita bisa mempunyai penghasilan sendiri, pengalaman yang kita dapatkan saat bekerja sangat bermanfaat untuk mendukung perkuliahan itu sendiri, mahasiswa juga diajarkan untuk disipilin dan menghargai waktu dengan sebaik-baiknya. Setidaknya kita dapat merasakan langsung semua hal yang berhubungan dengan dunia kerja yang sesungguhnya, yang selama ini hanya kita tahu dari buku dan sharing dari dosen. Dengan pengetahuan dan pengalaman langsung, kita akan lebih mudah memahami isi perkuliahan tersebut. Karena pada dasarnya, isi perkuliahan memang menjelaskan istilah-istilah dan hal-hal yang terjadi dan berhubungan erat dengan dunia kerja. Keuntungan lain dari berwirausaha/bekerja pada saat kuliah, mahasiswa dapat menggunakan perusahaan tempat mereka bekerja sebagai obyek studi kasus bagi tugas-tugas, diskusi ataupun makalah kuliahnya. Hal ini akan memberi banyak kemudahan bagi mahasiswa, karena mereka sudah mengenai dengan baik perusahaan tersebut dan pengurusan surat izin melakukan penelitian akan jauh lebih mudah juga.
Selain itu, kuliah sambil berwirausaha/bekerja banyak bermanfaat bagi perkembangan pribadi. Dunia kerja menuntut tanggung jawab yang lebih besar terhadap diri sendiri, rekan kerja, maupun tempat bekerja. Dengan demikian rasa tanggung jawab akan terasah. Dunia kerja identik dengan uang. Pekerjaan menciptakan kesadaran bahwa uang sangat berharga dan perlu perjuangan untuk mendapatkannya. Pekerjaan akan melatih mental, kemampuan interaksi sosial, dan kedewasaan berpikir.
Di samping hal-hal bermanfaat yang dapat kita peroleh dengan berwirausaha/bekerja pada saat kuliah, tentu saja ada perjuangan-perjuangan yang harus kita lakukan, mulai dari merelakan berkurangnya waktu bermain dan berkumpul dengan teman untuk diganti dengan berwirausaha/bekerja, sampai membagi pikiran dan tenaga untuk kepentingan berwirausaha. Belum lagi, jika saat ujian kuliah tiba, kita harus menjadi lebih rajin dan ekstra sehat agar bisa mempersiapkan diri.
Seringkali mahasiswa yang bekerja merasa tidak memiliki waktu yang cukup dalam menjalankan aktifitas belajar dan bekerja secara bersamaan, sehingga prestasi akademik yang ditunjukkannya pun kurang memuaskan. Namun ada juga mahasiswa yang kuliah sambil bekerja tetapi masih dapat menunjukkan prestasi akademik yang baik. Hal ini disebabkan mahasiswa mampu mengelola waktunya dengan sebaik mungkin, antara kebutuhan untuk belajar dengan kebutuhan untuk bekerja. 
Berdasarkan uraian di atas, untuk bisa menjalani kuliah sambil berwirausaha/bekerja memerlukan kedisiplinan yang tinggi dalam membagi waktu serta belajar yang optimal ketika berwirausaha/bekerja. Sehingga penulis ingin mengangkat judul “Etos Belajar dan Berwirausaha/Bekerja di Dunia Mahasiswa”.


1.2  Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan sebelumnya, penulis merumuskan permasalahan sebagai berikut:
1.      Apa faktor yang melatarbelakangi mahasiswa kuliah sambil berwirausaha/bekerja?
2.      Bagaimana cara mahasiswa untuk mengoptimalkan proses belajar sambil berwirausaha/bekerja?

1.3  Tujuan
Penulisan karya ilmiah ini bertujuan untuk:
1.      Mengetahui faktor yang melatarbelakangi mahasiswa kuliah sambil berwirausaha/bekerja.
2.      Mendeskripsikan bagaimana cara mahasiswa untuk mengoptimalkan proses belajar sambil berwirausaha/bekerja.

1.4  Manfaat
Penulisan ini diharapkan bermanfaat secara teoretis dan praktis. Secara teoretis, penulisan ini diharapkan bisa memberikan informasi mengenai manajemen waktu dengan prestasi akademik pada mahasiswa yang berwirausaha sangatlah penting. Secara praktis, penulisan ini diharapkan mahasiswa yang bekerja dapat memanfaatkan waktu dengan sebaik mungkin atau benar-benar tertata sedemikian rupa, agar prestasi akademik dalam perkuliahan tidak menurun. Dengan demikian keseimbangan antara kuliah dan berwirausaha tetap berjalan dengan baik.    


BAB II
TELAAH PUSTAKA
2.1    Mahasiswa
Menurut  Kamus  Besar  Bahasa Indonesia (2005, Pradnya Patriana 2007), bahwa mahasiswa merupakan individu yang belajar di perguruan tinggi. Sebagian mahasiswa masuk ke dalam kategori remaja akhir (18-21 tahun), namun sebagian pula terkategori sebagai dewasa awal pada periode pertama (22-28 tahun) (Monks, 2001, dalam Pradnya Patriana 2007). Sebagai seorang remaja, mahasiswa pun dituntut untuk memenuhi tugas-tugas perkembangannya.
Mahasiswa adalah kelompok masyarakat yang sedang menekuni bidang ilmu tertentu dalam lembaga pendidikan formal dan menekuni berbagai bidang tersebut di suatu tempat yang di namakan universitas. Kelompok ini sering juga disebut sebagai “golongan intelektual muda” yang penuh bakat dan potensi. Disamping itu mahasiswa juga semestinya mempunyai perilaku yang patut menjadi teladan para adik-adiknya yang masih duduk di bangku sekolah. Namun posisi yang demikian ini sudah barang tentu bersifat sementara karena kelak di kemudian hari mereka tidak lagi mahasiswa dan mereka justru menjadi pelaku-pelaku intim dalam kehidupan suatu negara atau masyarakat. (http://axlnejad.wordpress.com)
Sebagai cadangan potensial, sebagaimana pengertian mahasiswa sendiri yang berarti suatu kelompok yang sedang menekuni bidang ilmu tertentu. Disinilah kesadaran para mahasiswa yang harus ditekankan, bahwa sebagai mahasiswa yang nantinya akan mempunyai suatu keahlian dalam bidang-bidang ilmu tertentu harus wajib mengamalkannya dalam masyarakat luas. Ini semua semata-mata untuk kemajuan Bangsa dan Negaranya sendiri. Dan disinilah tingkat nasionalisme seorang “lulusan” mahasiswa akan di pertanyakan. Karena banyak “lulusan-lulusan’’ mahasiswa Indonesia melupakan bangsa dan negaranya sendiri, karena mereka sudah dilupakan oleh uang dan jabatan yang mereka dapat di bangsa dan negara lain. Seharusnya kita (mahasiswa) menjadi cadangan potensial untuk memajukan Bangsa dan negara kita, dan menjadi titik terang untuk keluar dari krisis-krisis yang berkepanjangan ini. (http://axlnejad.wordpress.com)

2.2    Wirausaha
Kewirausahaan (Inggris: Entrepreneurship) adalah proses mengidentifikasi, mengembangkan, dan membawa visi ke dalam kehidupan. Visi tersebut bisa berupa ide inovatif, peluang, cara yang lebih baik dalam menjalankan sesuatu. Hasil akhir dari proses tersebut adalah penciptaan usaha baru yang dibentuk pada kondisi resiko atau ketidakpastian. (wikipedia, 2012)
Menurut Nanda Nur Rizky STMIK ANIKOM YOGYAKARTA, 2011 mengatakan bahwa wirausahawan (entrepreneur) adalah orang yang berjiwa berani mengambil resiko untuk membuka usaha dalam berbagai kesempatan berjiwa berani mengambil resiko artinya bermental mandiri dan berani memulai usaha, tanpa diliputi rasa takut atau cemas sekalipun dalam kondisi tidak pasti. Sedangkan wirausaha mahasiswa adalah wirausaha yang pelaku utamanya adalah masih berstatus mahasiswa yang dilakukan di sela-sela kuliahnya dengan pemanfaatan waktu yang sebaik mungkin untuk bisa mengaturnya. Wirausaha mahasiswa merupakan cara pintar mencuri strategi sebelum menghadap dunia bisnis dan dunia kerja yang sebenarnya.

2.3    Mahasiswa yang Berwirausaha/Bekerja
Menurut Rice (dalam SF Daulay 2011) tugas mahasiswa adalah menuntut ilmu setinggi-tingginya di perguruan tinggi. Hal ini bertujuan guna mempersiapkan diri untuk memiliki karir yang mempunyai konsekuensi ekonomi dan finansial. Salah satu bentuk persiapan karir yang dapat dilakukan oleh mahasiswa adalah dengan bekerja sambilan.
Kuliah sambil bekerja bukanlah hal baru dikalangan mahasiswa. Beragam alasan melatarbelakanginya, mulai dari masalah ekonomi sampai hanya karena ingin mengisi waktu luang (Yenni dalam SF Daulay 2011 universitas Sumatera Utara). Motivasi mahasiswa tersebut berbeda-beda, ada yang ingin membantu orang tuanya dalam membiayai kuliahnya, ingin hidup mandiri dan mencari pengalaman (Wahyono dalam SF Daulay 2011 universitas Sumatera Utara).
Menurut Cohen (dalam SF Daulay 2011) bentuk pekerjan yang paling banyak dilakukan oleh mahasiswa adalah jenis pekerjaan paruh waktu (part-time work). Kuliah sambil bekerja banyak memberi dampak bagi mahasiswa baik positif maupun negatif. Dampak positifnya adalah dengan bekerja mahasiswa dapat membantu orang tua dalam membiayai kuliah, memperoleh pengalaman kerja serta kemandirian ekonomis (Motte & Schwartz, 2009 dalam dalam SF Daulay 2011).
Watanabe (dalam Pradnya Patriana, 2007) juga menyatakan bahwa terdapat dampak negatif yang harus diwaspadai oleh mahasiswa yang kuliah sambil bekerja. Dampak-dampak tersebut adalah kesulitan membagi waktu dan konsentrasi saat kuliah dan bekerja, kelelahan, penurunan prestasi akademik, mengalami keterlambatan kelulusan, dan akibat yang paling parah adalah dikeluarkan dari universitas karena lebih mementingkan pekerjaan dari pada kuliah.

2.4    Faktor yang Melatarbelakangi Mahasiswa Berwirausaha/bekerja
Beragam alasan melatarbelakangi mahasiswa kuliah sambil bekerja, mulai dari masalah ekonomi, keinginan untuk membantu orangtua dalam membiayai kuliah, keinginan untuk  hidup mandiri, mencari pengalaman sampai hanya karena ingin mengisi waktu luang. Yenni (dalam Pradnya Patriana, 2007)
Menurut David McCleland (dalam Hirdinis M 2008) bahwa kewirausahaan ditentukan oleh:
1.      Motif berprestasi (achievement), orang berwirausaha dengan tujuan memperoleh prestasi dan dengan prestasi yang dicapai diharapkan akan dapat memberikan kepuasan pada dirinya.
2.      Optimisme (optimism), seorang wirausaha selalu harus optimis dapat mencapai tujuan dan sasarannya dengan tepat dan selalu berusaha memperbaharui tujuan dan sasarannya setiap jangka waktu tertentu.
3.      Nilai kepribadian (value attitudes), seorang wirausaha memiliki nilai kepribadian yang luhur dan menjadi contoh bagi orang lain dalam perkataan, pergaulan, dan selalu berpikiran terbuka serta mempunyai pandangan yang jauh ke depan.
4.      Status wirausaha (entrepreneurial status) atau keberhasilan, seorang wirausaha yang sukses akan dihargai lebih tinggi dalam kehidupan bermasyarakat. Keberhasilan seorang wirausaha akan memunculkan banyak peluang baru, sehingga prospek di masa depan menjadi lebih menguntungkan.

2.5    Membagi Waktu antara Belajar dan Berwirausaha/Bekerja
Salah satu faktor yang dapat mempengaruhi prestasi akademik mahasiswa adalah waktu. Menurut Taylor (dalam SF Daulay 2011) waktu merupakan suatu komoditas yang paling bernilai dan jenis sumber daya yang tidak dapat diperbaharui. Bagi mahasiswa yang bekerja, waktu merupakan hal yang sangat berharga. 
Menurut Martin dan Osborne (dalam Tim OBM Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 2008) mahasiswa yang memiliki kemampuan mengatur waktu yang baik dan memiliki batas waktu untuk setiap pengerjaan tugasnya adalah salah satu kriteria mahasiswa yang berhasil. Mahasiswa diharapkan mampu memakai rentangan waktu dalam satu hari yaitu 24 jam itu dengan sebaik-baiknya untuk menyelesaikan tugas-tugas studinya sampai pada waktu pengumpulan tugas tersebut. Djamarah (dalam SF Daulay 2011 universitas Sumatera Utara).
Manajemen waktu menurut Atkinson dkk. (dalam Tim OBM Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 2008) mencakup penetapan tujuan dan prioritas, menyusun jadwal atau rencana, bersikap asertif, menghindari penundaan dan meminimumkan waktu yang terbuang.
Dari beberapa penjelasan di atas, maka penulis menyimpulkan bahwa diantara berbagai kegiatan yang dilakukan oleh setiap individu, maka waktu berperan penting didalamnya. Dengan begitu banyak kegiatan yang harus dilakukan seseorang, maka individu harus dapat mengatur waktunya dengan baik, agar setiap hal yang dijalani tidak berakhir sia-sia. Kemampuan seseorang untuk mengatur atau mengelola waktu dengan baik disebut dengan manajemen waktu.

2.6    Belajar Optimal Ketika Berwirausaha/Bekerja
Dr. Pudji Muljono, Dosen IPB Bogor mengatakan bahwa dalam hal belajar hendaknya mahasiswa mempunyai motif belajar yang kuat. Hal ini akan memperbesar kegiatan dan usahanya untuk mencapai prestasi yang tinggi. Bila motif tersebut makin berkurang, maka berkurang pulalah usaha dan kegiatan serta kemungkinannya untuk mencapai prestasi yang tinggi.  Motif  yang mendorong orang, pelajar dan mahasiswa untuk belajar antara lain:
1.    Mendapat nilai baik dan lulus dalam mata kuliah yang ditempuhnya.
2.     Mencari pemuasan keinginan tahu tentang sesuatu hal, peristiwa, orang, masyarakat dan hal-halyang tersangkut dalam hidup pribadi dan kemasyarakatan.
3.    Mengembangkan diri agar wawasan bertambah luas, pengetahuan bertambah melebar dan mendalam, kepribadian lebih matang, kecakapan dan keahlian beranjak mahir.
4.     Mendapatkan status sebagai orang terpelajar dan serjana karena ijazah dan gelar akademik atau sebutan profesional, dan penghargaan dan kedudukan karena prestasi belajar itu.
5.    Mendapatkan bekal pengetahuan dan kecakapan untuk masuk ke masyarakat dan dunia kerja.
6.    Mengejar cita-cita, yaitu menggunakan kegiatan belajar di perguruan tinggi dalam rangka mencapai cita-cita hidup.
Faktor kunci keberhasilan mahasiswa dalam belajar perlu diingat bahwa tugas mahasiswa adalah belajar. Untuk mencapai keberhasilan, maka perlu diketahui faktor-faktor yang menjadi kunci yakni: (www.gunadarma.ac.id)
 1) Atribut Individu /mahasiswa adalah karekteristik yang dimiliki oleh setiap mahasiswa yang menjadi salah satu faktor kunci keberhasilan mahasiswa dalam belajar. Ada tiga karakteristik yang melekat dalam setiap mahasiswa dengan proporsi yang berbeda-beda yakni:
a. Karakteristik demografi seperti umur dan jenis kelamin;
b. Karakteristik kompetensi seperti kecerdasan dan kemampuan;
c. Karakteristik psikologi seperti nilai, perilaku dan kepribadian.
2) Keinginan Kerja Keinginan kerja ini artinya keinginan untuk belajar, karena tugas mahasiswa adalah belajar. Selain itu juga harus ada motivasi, baik dari dalam maupun dari luar. Motivasi dari dalam berasal dari diri sendiri untuk berhasil dalam rangka menyongsong masa depan yang lebih baik. Motivasi dari luar berasal dari luar diri sendiri baik berasal dari orang tua atau dari pihak lain.
3) Dukungan Organisasi Dukungan organisasi adalah segala sesuatu yang mendukung kepada mahasiswa untuk memaksimalkan hasil dari belajar. Untuk mencapai hasil yang optimal, maka ketiga faktor tersebut harus dimaksimalkan.
Hasil penelitian yang dilakukan oleh Ruscoe, Morgan dan Peebles (dalam SF Daulay 2011 universitas Sumatera Utara) pada sejumlah mahasiswa yang bekerja menunjukkan bahwa mahasiswa yang kuliah sambil bekerja memiliki rata-rata indeks prestasi yang lebih tinggi yaitu 3.02 (dalam poin 4) dibandingkan mahasiswa yang tidak bekerja yang hanya memiliki rata-rata indeks prestasi 2.98. Penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa mahasiswa yang bekerja lebih disiplin, lebih tepat waktu dalam perkuliahan dan memiliki inisiatif untuk berusaha mencari informasi di luar sumber-sumber sosial ketika mengerjakan tugas.


BAB III
METODE PENELITIAN

3.1 Rancangan Penelitian
Dalam penelitian ini, penulis menggunakan bentuk rancangan penelitian deskriptif karena dia ingin menjelaskan informasi tertentu yang berhubungan dengan pokok permasalahan. Menurut Arikunto (2006), rancangan deskriptif digunakan untuk memperoleh informasi yang berhubungan dengan fenomena yang ada dan menentukan situasi yang alami sebagaimana yang ada pada saat penelitian dilakukan. Dalam hal ini fenomena mengenai belajar dan berwirausaha di dunia mahasiswa.

3.2 Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah wawancara. Menurut Arikunto (2006), wawancara adalah sebuah dialog yang dilakukan oleh pewawancara dengan terwawancara untuk memperoleh informasi.

3.3 Analisis Data
Menurut Singarimbun (1989), metode analisis merupakan proses penyederhanaan data ke dalam bentuk yang lebih mudah dibaca dan diinterpretasikan. Agar sesua dengan tujuan penelitian ini, metode analisis data dilakukan melalui dua cara, yaitu (1) kualitatif; dan (2) kuantitatif.
Analisis data secara kualitatif adalah untuk menjelaskan dan mendeskripsikan hubungan data yang diperoleh dengan landasan teori yang dipergunakan melalui uraian yang sistematis. Sedangkan analisis data secara kuantitatif mempergunakan analisis data statistik.
Dalam penelitian ini, penulis menggunakan metode kualitatif untuk mendeskripsikan bagaimana belajar dan berwirausaha di dunia mahasiswa, cara membagi waktu antara belajar dan berwirausaha serta belajar yang optimal sambil berwirausaha.


BAB IV
SINTESIS DAN ANALISIS

4.1 Sintesis
4.1.1 Faktor yang Melatarbelakangi Mahasiswa Berwirausaha/Bekerja
Berwirausaha/bekerja merupakan kemampuan untuk melihat kesempatan bisnis dan menghasilkan keuntungan. Siapapun bisa dan mampu menjalankan wirausaha, tidak memandang usia maupun status. Salah satunya adalah mahasiswa.
Mahasiswa yang berwirausaha/bekerja tidak semata-mata karena menjalankan  profesinya saja. Ada beberapa faktor yang melatarbelakangi mahasiswa memutuskan untuk berwirausaha, antara lain:
1.      Faktor ekonomi
Dengan berwirausaha, mahasiswa bisa memenuhi kebutuhan-kebutuhan pribadi mereka seperti makan, biaya transportasi, membayar kost bahkan membayar kuliah.
2.      Meringankan beban orang tua dan melatih kemandirian
Dengan berwirausaha, mahasiswa akan mendapatkan tambahan uang saku, sehingga tidak tergantung pada orang tuanya dan meminimalkan beban yang dikeluarkan orang tua untuk kebutuhan anaknya.
3.      Menambah pengalaman
Bagi sebagian mahasiswa, belajar di bangku perkuliahan hanya akan mendapatkan ilmu. Oleh karena itu mereka merasa kurang mendapatkan pengalaman lebih sehingga memutuskan untuk berwirausaha.
4.      Memperluas Jaringan
Pada mahasiswa yang memang sudah serius berwirausaha, maka jaringan sangat diperlukan ketika lulus kuliah kelak agar tidak terjadi sarjana pengangguran.
5.      Hobi
Bagi sebagian mahasiswa yang menjalankan wirausaha bukan semata-mata ingin memenuhi kebutuhan fisiknya saja. Akan tetapi, untuk mencurahkan hobi/keinginannya saja.
6.      Agar lebih eksis
Ini alasan yang mungkin jarang ditemui, tetapi percaya atau tidak, ada mahasiswa yang melontarkan hal tersebut. Alasan eksistensi ini biasanya dikaitkan dengan jumlah uang yang mereka terima, biasanya bukan bersifat kebutuhan, melainkan untuk memenuhi gaya hidup mereka.
Beberapa faktor yang menjadi latar belakang mahasiswa berwirausaha itulah yang mendorong semangat dan prestasi mahasiswa dalam berwirasuaha. Sehingga antara kuliah dan berwirausaha bisa berjalan secara beriringan.

4.1.2 Mahasiswa Mengoptimalkan Belajar sambil Berwirausaha/Bekerja
Mahasiswa yang berkualitas adalah seorang mahasiswa yang tangguh, selalu ingin meningkatkan prestasi menjadi lebih baik, mempunyai daya tahan mental untuk mengatasi persoalan yang timbul dan mampu mencari jalan keluar yang positif bagi semua persoalan hidupnya. Terbentuknya mahaiswa yang berkualitas salah satunya dapat dicapai melalui banyaknya proses belajar yang dijalani, seperti halnya mengisi waktu luang kuliah dengan berwirausaha atau bekerja, serta didukung dengan pola asuh orang tua yang diperoleh selama perkembangan.
Bagi mahasiswa belajar tidak harus diperoleh dari pendidikan formal atau perguruan tinggi saja, melainkan dari beberapa pengalaman dan fenomena yang terjadi di lingkungan sekitar. Seperti halnya ketika mahasiswa berwirausaha akan memperoleh pengalaman atau pelajaran, baik secara langsung maupun tidak langsung. Hal ini membuat mahasiswa tertarik untuk mengisi waktu luang mereka dengan berwirausaha.
Berwirausaha/bekerja sambil kuliah tentu bukan perkara mudah, perlu motivasi yang kuat agar keduanya dapat berjalan beriringan. Yang dibutuhkan adalah komitmen tinggi, karena jika tidak bekerja keras dan pintar membagi waktu, maka akan terbengkalai keduanya. Harus disadari sejak awal, dengan melanjutkan kuliah sambil bekerja artinya beban fisik dan psikis akan berlipat ganda. Pekerjaan kantor dan tugas kuliah bisa datang dalam waktu bersamaan. Oleh karena itu, ada beberapa cara untuk mengatur waktu bagi mahasiswa sambil berwirausaha/bekerja yaitu:
1. Mengatur waktu secara bijak. Salah satu caranya dengan first thing first, berpikirstrategis dengan memperhatikan prioritas. Membagi waktu antara kuliah, berwirausaha dan bersosialisasi. Selain itu, mencoba untuk memecah-mecahkan pekerjaan besar menjadi bagian-bagian kecil. Misalnya untuk tugas membuat makalah bisa dibagi menjadi mencari buku di perpustakaan, mencari bahan di internet, dan seterusnya, sehingga manajemen waktu akan semakin jelas. Pada prinsipnya menggunakan  waktu seefektif mungkin dan dapat dipastikan disiplin menjalankannya.
2. Mengerjakan tugas kuliah dengan segera. Bila mendapat tugas kuliah segera dikerjakan dan tidak menunda-nunda waktu dengan main facebook atau twitter terlebih dahulu agar cepat selesai.
3. Membuat skala prioritas. Orang sukses lebih sering menggunakan prioritas yang penting dan mendesak, sehingga tugas atau target dapat tercapai lebih cepat dan dengan waktu yang tidak terlalu mendesak. Apapun yang terpenting dan terbaik harus diprioritaskan, misalnya beberapa tugas datang secara bersamaan maka harus mengerjakan mana yang lebih mendesak untuk dikerjakan.
4. Belajar lebih tekun, berwirausaha/bekerja lebih baik. Tekadkanlah untuk belajar dan  berwirausaha/bekerja lebih cerdas, sehingga suatu saat hasil yang didapatkan lebih besar dari pada energi yang dikeluarkan.
5. Menjalin relasi dan menumbuhkan kepercayaan. Dengan memiliki banyak relasi dapat mempermudah memajukan usaha. Kita bisa saling berbagi pengalaman dan dapat saling membantu dalam hal memajukan usaha yang dibangun.
6. Usaha dan doa. Manusia hanyalah perencana, namun Tuhanlah pemilik nasib kita. Doa tanpa usaha itu bohong, sedangkan usaha tanpa doa itu sombong. Keseimbangan doa dan usaha menuntun ke jalan kesuksesan.
Memiliki jiwa tinggi dalam hal wirausaha bukan hanya untuk dijadikan penghuni di kepala namun juga harus dikembangkan dan diimplementasikan. Untuk mengembangkan apa yang tersimpan di otak ini dengan mencari informasi merupakan hal yang paling signifikan. Dengan adanya info-info yang berguna kita bisa elajar dan melihat peluang bisnis apa yang bisa diterapkan.
Usaha-usaha yang bisa dilakukan untuk menyalurkan ilmu dengan tanpa mengganggu aktifitas kuliah, antara lain:
1.    Mendirikan bimbingan belajar
Seiring dengan semakin banyaknya orang tua yang sibuk bekerja sehingga tidak sempat mendidik anaknya mempelajari pelajaran dari sekolah yang memerlukan jasa untuk memberikan les tambahan. Hal ini merupakan kesempatan emas untuk mendirikan bimbel, bimbel ini bisa didirikan oleh beberapa orang untuk bekerjasama. Yang perlu diperhatikan dalam usaha ini adalah lokasi dan penentuan tarif yang sesuai.
2.    Menjadi reseller online
Menjadi reseller baju, jam tangan, sepatu, tas bahkan makanan ringan/snack secara online sangatlah mudah dan tidak banyak menyita waktu, bahkan tanpa modalpun mahasiswa bisa memperoleh penghasilan yang cukup menjanjikan.
3.    Jualan pulsa
Bisnis jualan pulsa sangatlah mudah dilakukan, bahkan transaksinya bisa dilakukan di mana saja dan kapan saja. Hanya bermodalkan handphone yang bisa dibawa kemana-mana. Sehingga, waktu belajar mahasiswa tidak terganggu.
4.    Menjadi Penulis Lepasan
Bagi mahasiswa yang suka dengan dunia tulis menulis tidak ada salahnya mengirimkan naskah ke majalah-majalah atau koran, dan keuntungannya juga lumayan banyak.
Kuliah sambil berwirausaha/bekerja memberi banyak manfaat bagi mahasiswa, baik dampak positif maupun negatif. Dampak positifnya antara lain; menambah uang saku, meringankan beban orang tua, memperoleh pengalaman kerja. Selain dampak positif juga ada dampak negatifnya antara lain; tidak bisa membagi waktu antara kuliah dengan bekerja, penurunan pretasi akademik, bahkan keterlambatan lulus.
Ada beberapa mahasiswa yang sukses berwirausaha dan berprestasi di bidang akademik dan non akademik, salah satunya adalah Elang Gumilang, mahasiswa IPB. Saat duduk di bangku SMA, ia berjualan donat dengan keuntungan Rp50.000,00 per hari. Selang beberapa waktu pada awal-awal kuliah, dengan modal Rp1.000.000,00 ia berjualan sepatu di asrama IPB yang bisa menghasilkan keuntungan rata-rata Rp3.000.000,00 setiap bulannya. Setelah beberapa tahun, elang memutuskan untuk tidak berjualan sepatu. Berawal dengan melihat banyak lampu di IPB yang redup, ia berpikiran bahwa keadaan seperti ini merupakan peluang bisnis yang menggiurkan. Dengan modal surat dari kampus, ia melobi ke perusahaan lampu philips untuk menyetok lampu di kampusnya dan berhasil dengan keuntungan Rp15.000.000,00. Beberapa bisnis telah dilakukan elang, sampai pada akhirnya ia masuk ke dunia properti. Tender pertama ia menangi Rp162.000.000 yaitu dengan membangun Sekolah Dasar di daerah Jakarta Barat, sukses membangun sekolah membuat Elang percaya diri untuk mengikuti tender-tender yang lebih besar. Bisnis inilah yang menjadikan Elang sebagai wirausahawan muda yang sukses dan berprestasi. (http://www.tempo.com, 2009).

4.2 Analisis
Dari beberapa penjelasan yang telah dipaparkan di atas, ternyata mahasiswa mampu menjalani kuliah sambil berwirausaha, tanpa harus mengorbankan prestasi akademiknya. Sehingga, kemampuan mahasiswa akan memberikan sumbangsih besar. Karena mahasiswa merupakan tonggak kemajuan suatu bangsa.
Teori dan praktek lapangan menunjukkan adanya kesamaan. Sebagai buktinya, teori yang mengemukakan bahwa adanya beberapa faktor yang melatarbelakangi mahasiswa berwirausaha. Selain itu, teori mengenai mengoptimalkan belajar bagi mahasiswa yang berwirausaha dengan cara membagi waktu antara kuliah dan berwirausaha.



BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Mahasiswa berprestasi adalah mahasiswa yang tangguh dan berani menanggung segala resiko yang dihadapi. Mempunyai rasa ingin tahu yang tinggi dan selalu ingin meningkatkan prestasinya, baik akademik maupun non akademik.
Mahasiswa yang berani berwirausaha adalah mahasiswa yang tidak takut dengan kegagalan. Beberapa faktor yang mendorong mahasiswa untuk terus berwirausaha, sehingga membuat mahasiswa lebih kreatif dan mandiri.
Mengoptimalkan belajar dan membagi waktu antara kuliah dan berwirausaha harus dilakukan oleh seorang mahasiswa untuk mencapai prestasi dan masa depan yang cerah. Dengan demikian manajemen waktu merupakan kunci sukses menjadi mahasiswa berwirausaha dan berprestasi.

5.2 Saran-saran
Setelah melakukan penelitian ini, penulis memberi saran untuk beberapa pihak, yaitu:
Pertama, pembaca pada umumnya dan mahasiswa pada khususnya, agar lebih terbuka pikirannya untuk berwirausaha. Khusus bagi para mahasiswa diharapkan agar jiwa wirausaha dapat tumbuh dalam diri mahasiswa, mampu mengembangkan wirausaha dalam bentuk nyata sehingga dapat memberi manfaat baik untuk pribadi, universitas dan negara.
Kedua, pihak kampus/universitas, peran serta aktif kampus/universitas sangat dibutuhkan untuk memberikan saran dan prasarana yang mendukung berkembangnya kewirausahaan mahasiswa.
Ketiga, peneliti selanjutnya, diharapkan bagi peneliti selanjutnya agar meneliti faktor-faktor yang menyebabkan kesuksesan dan kegagalan mahasiswa belajar dan berwirausaha.


DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, Suharsimi. 2006. Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktik. Edisi revisi. Jakarta: PT. Rineka Cipta.

Fani Daulay, Siti, 2010. Perbedaan Self Regulated Learning antara Mahasiswa USU yang Bekerja dengan yang Tidak Bekerja. Sumatera Utara: USU.

M, Hirdinis. 2008. Modul Proses Kewirausahaan. Jakarta: Universitas Mercubuana.

Nur Rizky, Nanda. 2011. Menggali Potensi Jiwa Wirausaha Mahasiswa.Yogyakarta: STMIK AMIKKOM.

Patriana, pradnya. 2007. Hubungan antara Kemandirian dengan Motivasi Bekerja sebagai Pengajar Les Privat Pada Mahasiswa di Semarang. Semarang: Universitas Diponegoro.

http://axlnejad.wordpress.com/2008/12/16/hakikat-mahasiswa/, diakses pada 10 Maret 2012.

http://www.gunadarma.ac.id/en/pages/id-etika-pergaulan-mahasiswa.html, diakses pada 10 Maret 2012.

http://edukasi.kompasiana.com, diakses pada 12 Maret 2012.

Tim OBM Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 2008.

http://tempo.com, 2009, diakses pada 12 Maret 2011.

http://www.wikipedia.com, 2011, diakses pada 12 Maret 2011.

http://www.wikipedia.com, 2012, diakses pada 11 Maret 2011.